5 Sutradara film wanita terbaik di Asia Tenggara

SutradaraWanitaAsTra

Sahabat Serba Ter yang budiman, beberapa sutradara film wanita di Asia khususnya Asia Tenggara, mulai menampakan kepiawaiannya dalam profesi yang selama ini lebih banyak didominasi oleh kaum pria.
 
Mereka benar-benar memiliki talenta yang sangat brilian dalam menjalankan profesinya tersebut, baik di tingkat lokal maupun di tingkat internasional.
Kemampuan mereka dalam mengatur-laku para aktor maupun aktris film yang disutradarainya sejajar dengan para sutradara film pria, bahkan beberapa bisa lebih, terbukti dengan beberapa sutradara film wanita tingkat internasional yang mendapatkan penghargaan sebagai sutradara terbaik melalui karya-karya filmnya, seperti Kathryn Ann Bigelow dari AS dengan 82 Academy Awards, Catherine Hardwicke dari AS, Haifaa Al Mansour dari mesir dan lain-lain.

Nah Sahabat Serba Ter, berikut ini tayangan 5 Sutradara film wanita terbaik di Asia Tenggara, sebagai berikut :

YasminAhmad

Yasmin Ahmad

Yasmin Ahmad yang lahir pada tanggal 7 Januari 1958 adalah merupakan salah satu sutradara wanita, penulis cerita dan naskah film terbaik asal Malaysia sekaligus sebagai direktur eksekutif kreatif dari Leo Burnett Kuala Lumpur. Iklan televisi dan film-film karya Yasmin sangat terkenal di Malaysia karena sifatnya yang humoris, ketulusan hati dan cinta dalam kerukunan lintas budaya. Karya-karyanya telah mendapatkan beberapa penghargaan baik di dalam negeri maupun internasional. Film pertama dalam The Orked Trilogy karyanya yang berjudul Sepet (Sipit) yang menggambarkan tentang hubungan percintaan antara dua ras/keturunan yang berbeda, sempat dilarang penayangannya oleh kaum Konservatif Sosial Malaysia karena dianggap sangat kontroversial. Namun kedua karya film lainnya dalam trilogi tersebut, Gubra dan Mukhsin justru mendapat penghargaan retrospektif dari New York Museum of Modern Art setelah ia meninggal dunia di usianya yang ke 51 tahun (2009) akibat stroke.


PimpakaTowira

Pimpaka Towira

Setelah lulus dari pendidikannya di bidang film pada Thammasat University, Bangkok – Thailand, Pimpaka Towira bekerja sebagai kritikus film dan penulis pada surat kabar The Nation di ibukota Thailand. Setelah serangkaian eksperimen film pendeknya seperti Mae Nak (1997), pada tahun 2003 melalui karya filmnya yang berjudul One Night Husband, Pimpaka semakin dikenal dunia karena karya fimnya tersebut mendapat penghargaan sebagai film yang memadukan sensitifitas seni dengan alur cerita yang merakyat, pada ajang film bergengsi Berlin Film Festival. Karya film berikutnya yang merupakan film dokumenter tentang Supinya Klangnarong, seorang aktivis media yang melakukan perlawanan hukum atas gugatan pencemaran nama baik terhadap dirinya oleh Shin Corporation yang pada saat itu dimiliki oleh keluarga perdana menteri Thaksin Shinawatra. Film yang memakan waktu 3 tahun dalam pembuatannya ini akhirnya menjadi titik awal terjadinya kudeta terhadap perdana menteri Thaksin pada tahun 2006.


NadineTruong

Nadine Truong

Nadine Truong adalah sutradara film wanita asal Vietnam kelahiran Jerman. Nadine mendapatkan kelar MFA nya dari sebuat lembaga pendidikan sutradara yang sangat terkenal, American Film Institute Conservatory pada tahun 2010. Karya film pendeknya yang berjudul Shadow Man and Egg Baby berhasil mendapatkan penghargaan George C. Lin Emerging Filmmaker Award dari San Diego Asian Film Festival pada tahun 2010. Pada tahun yang lalu, Nadine baru saja merilis Karya film pertamanya Someone I Used To Know yang dibintangi oleh Brian Yang (Hawaii Five O) dan Rex Lee (Entourage), sebuah film yang menceritakan tentang bergabungnya kembali tiga sahabat pada masa sekolah SMU dengan merayakannya dalam sebuah acara reuni malam panjang di kota Los Angeles. Kini ia tinggal di Los Angeles – AS dan mulai banyak dikenal publik dan kritisi film sebagai calon sutradara film wanita masa depan.


NiaDinata

Nia Dinata

Sejak lulus dari Elizabethtown College, Pennsylvania – AS dan menyelesaikan kursus filmnya selama satu tahun di New York University, Nia Dinata telah menjadi salah satu sutradara film wanita Indonesia yang paling dicari. Karya filmnya yang berjudul Arisan meraih sukses besar secara komersial, memenangkan berbagai penghargaan di Indonesia dan menjadi film yang terbaik di Festival Cinemasia di Amsterdam. Dan melalui karya filmnya Love For Share (Berbagi Suami) pada tahun 2006, Nia semakin dikenal dunia. Film Nia ini menceritakan tentang penderitaan terpendam seorang istri akibat poligami yang semakin marak di Indonesia. Film yang berdasarkan pada sebuah kisah nyata pengalaman hidupnya dimana ayahnya yang menjadi pelindungnya memutuskan untuk menikah lagi dengan istri keduanya pada saat ia berusia 18 tahun ini mendapat sambutan/perhatian yang sangat besar di dua festifal film besar Tribeca dan Cannes.


MarilouDiazAbaya

Marilou Diaz-Abaya

Marilou Diaz-Abaya dikenal sebagai salah satu sutradara film wanita terbaik sepanjang jaman dan sutradara teraktif di negaranya, Filipina, semenjak menjadi sutradara pada tahun 1980. Karya-karya film sebelumnya yang menggambarkan tentang penderitaan sebagian besar warga Filipina akibat kekejaman rejim opresif presiden Ferdinand Marcos selama ia berkuasa. Film karya Marilou itu dibintangi oleh aktor sekaligus kandidat calon senator Filipina 2007, Cesar Montano dan merupakan film biografi tituler José Rizal, pahlawan nasional dan reformis Filipina pada abad ke-19. Berbagai penghargaan dunia diraihnya selama karir dalam hidupnya, salah satunya adalah menjadi nominator Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2005 karena telah secara aktif bekerja dan berusaha dengan sekuat tenaga dan seluruh kemampuannya untuk mempromosikan demokrasi dan meningkatkan kesadaran etnis di negaranya. Marilou Diaz-Abaya yang lahir di Quezon City – Filipina tanggal 30 Maret 1955, akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke 57 tahun (2012) setelah selama 5 tahun berjuang melawan penyakit kanker payudara yang dideritanya.

Demikian, semoga dapat bermanfaat.
 
Sumber : en.wikipedia.org

Share this on : TwitterFacebookGoogle+

Leave a Comment

Check to Confirm.